<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Portal Informasi Online Gereja Paroki St. Teresia Bongsari &#187; Sejarah</title>
	<atom:link href="http://www.mudikabongsari.com/category/seputar_gereja/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mudikabongsari.com</link>
	<description>Website Gereja St. Teresia Bongsari</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Jun 2010 06:47:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sejarah Paroki Bongsari</title>
		<link>http://www.mudikabongsari.com/2009/09/sejarah-paroki-bongsari/</link>
		<comments>http://www.mudikabongsari.com/2009/09/sejarah-paroki-bongsari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 16:16:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mudikabongsari.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[SEJARAH GEREJA
PAROKI SANTA TERESIA KANAK-KANAK YESUS BONGSARI
DI ATAS BUKIT BONGSARI,
BERDIRI GEREJA ST TERESIA
KANAK-KANAK YESUS
Oleh: DF SN Wargatjie

“……diatas batu karang ini Aku mendirikan
jemaatKu dan alam maut tidak akan
menguasainya. “ Matius 16 : 18

Empat puluh tahun lalu, gereja Santa Teresia Kanak-Kanak Yesus mulai didirikan diatas sebidang tanah kering seluas 4,5 hektar di perbukiyan Kelurahan Bongsari, Kecamatan Semarang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>SEJARAH GEREJA</strong></p>
<p align="center"><strong>PAROKI SANTA TERESIA KANAK-KANAK YESUS BONGSARI</strong></p>
<p align="center">DI ATAS BUKIT BONGSARI,</p>
<p align="center">BERDIRI GEREJA ST TERESIA</p>
<p align="center">KANAK-KANAK YESUS</p>
<p align="center">Oleh: DF SN Wargatjie</p>
<p align="center">
<p align="center">“……diatas batu karang ini Aku mendirikan</p>
<p align="center">jemaatKu dan alam maut tidak akan</p>
<p align="center">menguasainya. “ Matius 16 : 18</p>
<p align="center">
<p>Empat puluh tahun lalu, gereja Santa Teresia Kanak-Kanak Yesus mulai didirikan diatas sebidang tanah kering seluas 4,5 hektar di perbukiyan Kelurahan Bongsari, Kecamatan Semarang Barat, Kotamadya Semarang.</p>
<p>Lokasi tersebut saat itu masih berada di pinggiran kota dan penuh dengan alang-alang, serta tanaman bayam dan tanaman kacang. Sebagai tempat di pinggiran kota pada waktu itu keadaanya masih sunyi-sepi. Pemukiman penduduk masih berupa kelompok-kelompok rumah yang berjauhan di antara tanah-tanah sawah dan ladang. Sekarang berkat pemekaran wilayah daerah Kotamadya Semarang, lokasi tersebut masuk dalm wilayah tengah kota, dan kawasan sekitarnya sudah penuh dengan pemukiman penduduk.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.mudikabongsari.com/wp-content/uploads/2009/09/sudut-bongsari.jpg"><img class="size-full wp-image-4 aligncenter" title="sudut bongsari" src="http://www.mudikabongsari.com/wp-content/uploads/2009/09/sudut-bongsari.jpg" alt="sudut bongsari" width="499" height="374" /></a></p>
<p>Pada tahun 1955 umat Katolik di kawasan pinggiran kota Semarang, yang domosilinya terpencar-pencar berjauhan satu dengan yang lain, bersatu membentuk satu wilayah yang dipelopori Al. Soedibyono Hardjosoebroto, yang pada waktu itu pegawai Urusan Katolik Departemen Agama Kotamadya Semarang. Wilayah ini dikenal dengan sebutan Kring Kulon Banjir Kanal. Wilayahnya membentang dari Banjir Kanal Barat sampai Krapyak dengan mencakup Cabean, Panjangan, Barusari, Demangan, Gisikdrono, Penggiling, Krobokan, Kalibanteng, dan Krapyak.</p>
<p>Pada awal mula, daerah Banjir Kanal Barat tersebut merupakan bagian dari wilayah Paroki Katedral di Randusari, Semarang Selatan.</p>
<p>Sekitar awal tahun 1963, pengurus Paroki Katedral merasakan dan menyadari, betapa perlunya ada tambahan sebuah paroki untuk melayani umat Katolik di wilayah “Kulon Banjir Kanal “ itu, sekaligus untuk menampung segala aktifitas dan kreativitas umat Katolik di wilayah tersebut.</p>
<p>Rama Yustinus Darmojuwono, Pr yang waktu itu menjadi Kepala Paroki Katedral mengambil tindakan nyata dengan segera meninjau sebidang tanah seluas 4,5 hektar di kawasan Kelurahan Bongsari untuk membangun gedung gereja baru. Tindakan ini dilakukan setelah mendapat restu Uskup Agung Semarang, Mgr Albertus Soegijopranoto, yang merupakan putra Indonesia pertama yang ditahbiskan sebagai Uskup tangggal 6 November 1940.</p>
<div id="attachment_118" class="wp-caption alignleft" style="width: 199px"><a href="http://www.mudikabongsari.com/wp-content/uploads/2009/09/Patung-ST-Teresia.JPG"><img class="size-medium wp-image-118" title="Patung ST Teresia" src="http://www.mudikabongsari.com/wp-content/uploads/2009/09/Patung-ST-Teresia-189x300.jpg" alt="Patung St. Teresia di depan Gereja St. Teresia Bongsari" width="189" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Patung St. Teresia di depan Gereja St. Teresia Bongsari</p></div>
<p>Rencana serta pembangunan gereja ini boleh dikatakan tidak mengalami kesulitan. Tanh dibeli oleh Keuskupan Agung Semarang, sedangkan dana pembangunan gedungnya sendiri sebagian diperoleh dari dana sumbangan seorang dermawan Katolik dari Jerman bernama Fidelis Gotz. Umat katolik dari Jerman ini ketika jatuh sakit berkaul kepada santa Teresia dari Kanak-Kanak Yesus, apabila nanti sakitnya sembuh akan menyumbangkan sebagian hartanya untuk misi di Indonesia. Maka, ketika sembuh, dia segera menepati kaulnya itu dengan menyumbangkan sejumlah dana untuk misi di Indonesia. Sahabat Mgr Albertus Soegijopranata ini menyerahkan sumbangannya untuk karya Keuskupan Agung Semarang, yang ketika itu dipimpin oleh Mgr Albertus Soegijopranata. Dana sumbangan ini digunakan untuk membiayai pembangunan gedung gereja di Bongsari itu, dan atas permintaan penyumbang bersangkutan nama Santa Teresia dijadikan nama sekaligus pelindung gereja Bongsari.</p>
<p>Gereja mulai dibangun pada Bulan Desember 1963 oleh 3 tim arsitek Ir Oei Ging Kie, Ir Ars. Sidharta, dan Ir Ars. Haditirta serta diperkuat oleh tim pembangunan Keuskupan Agung Semarang pimpinan Tjan Djie Tong. Gereja ini selesai dibangun tahun 1967. ( Tanggal, bulan ? )</p>
<p>Mulai 3 Oktober 1967 dibentuk Yayasan Pengurus Papa Miskin di Bongsari dengan Rama J.O.H Padmasepoetra, Pr sebagai ketua merangkap anggota dan sekertaris RJ. Soemijodo dengan anggota-anggota Gerardus Soegito, GRS. Joedoprawiro dan Koen Hardjito. Pendirian Yayasan Pengurus Papa Miskin disahkan dengan akte notaris RM Soeprapto tanggal 2 Februari 1968.</p>
<p>Misa kudus pertama di gereja ini berlangsung tanggal 3 Desember 1967 dengan Pastor Ingen Housz, SJ sebagai rama pertama gereja ini. Misa pertama ini diikuti sekitar 50 orang, yang sebagian besar berasal dari kawasan “Wilayah Kulon Banjir Kanal”.</p>
<p>Uskup Agung Semarang, Justinus Kardinal Darmojuwono yang tanggal 26 Juni 1967 dilantik sebagai Kardinal, memberkati gereja ini pada tanggal 7 Januari 1968. Nama Santa Teresia Kanak-Kanak Yesus diabadikan sebagai pelindung dan nama gereja ini. Nma ini di pilih karena dermawan dari Jerman yang membiayai sebagian dana pembangunan gereja ini mempunyai kaul kepada Santa Teresia Kanak-Kanak Yesus.</p>
<p>Pastoe Ingen Housz, SJ diangkat sebagai paastor kepala pertama Paroki Bongsari ini. Sakramen Baptis pertama di Gereja ini dilaksanakan tanggal 17 Desember 1967 oleh Rama Ingen Housz, SJ dengan jumlah baptisan sebanyak 22 orang. Dua orang diantaranya dibaptis sekeluarga, yaitu Paulus Djarmono kelahiran tahun 1934 bersama istrinya Yustina Siti Soepiah dan seprang anaknya Faustia Djumiarsih, dan Maria Caecilia Istiasih Suprapto kelahiran 1935 bersama tiga anaknya Fredericus Djoko Sudjarwo, Fransiska Tri Udijati, dan Yohanes Gualbertus Tjatur Argo Sampurno.</p>
<p>Sedangkan pemberkatan pernikahan pertama di gereja ini dilaksanakan tanggal 27  Desember 1967, oleh Rama Ingen Housz dengan pasangan pengantin Yoanes Muhardjo dan Kaminem. Disusul kemudian dengan pasangan Lucianus Sudijono dan Kasiyatum pada tanggal 20 Januari 1968, dan pasangan Franciscus Xaverius Kemanto dan Maria Magdalena Dasilah pada tanggal 20 Februari 1968.</p>
<p><strong>Masa”mbok-mboken”</strong></p>
<p>Rama Ingen Housz, SJ sudah aktif melakukan penggembalaan kepada umatnya sekalipun gereja Bongsari belum diresmikan sebagai Paroki. Bahkan, begitu gedung Gereja selesai dibangun tapi belum selesai diresmikan oleh Uskup Agung Semarang, Rm Ingen Housz sudah menggunakan gereja baru itu untuk melakukan pembabtisan kepada 22 orang pada tanggal 17 Desember 1967, dan memberikan pemberkatan pernikahan pada tanggal 27 Desember 1967.</p>
<p>Selaku Kepala Paroki Bongsari ynag pertama, Rm Ingen dikenal sebagai pastor yang penuh enerjik dan disiplin dalam merintis dan mengembangkan umatnya. Sebagai paroki yang muda, Paroki Bongsari memang serba memerlukan penanganan yang menguras tenaga dan pikiran pada dekade pertama.</p>
<p>Pada masa 10 tahun pertama, sebagaimana biasa dialami paroki-paroki baru, Paroki Bongsari bagaikan “ tidak dipandang” oleh umatnya sendiri. Saat itu banyak umat Paroki Bongsari masih enggan untuk merayakan misa ekaristi di gerejanya  itu sekalipun gerejanya itu merupakan gedung yang megah dengan perlengkapan yang serba baru dan modern. Meja dan bangku untuk umat dirancang menuruti model baru tanpa menggunakan tempat untuk berlutut, dengan bahan semuanya dari kayu jati pilihan. Namun, mereka saat itu masih lebih suka pergi ke gerejanya yang dahulu, yaitu gereja Katedral Randusari.</p>
<p>Uskup Agung Semarang, Justinus Kardinal Darmojuwono dalam sambutannya pada perayaan 10 tahun Paroki Bongsari mengungkapkan, sering masih ada putra-putri paroki Bongsari, sebagai paroki muda, merasa mempunyai kenangan manis mengenai tatacara kehidupan paroki ibu, paroki Katedral Randusari, hingga orang sering mempunyai keinginan  lari ke paroki ibu, bila mengalami kesukaran dalam wilayah atau parokinya sendiri.</p>
<p>“Tetapi, harus disadari bahwa dalam perkembangan menjadi dewasa, adanya sifat mbok-mboken yang terus-menerus adalah merupakan deviasi hidup. Setiap warga paroki haruslah mencoba mengatasi adanya deviasi tersebut,” kata Kardinal Daemojuwono mengingatkan.</p>
<p>“Adalah cita-cita bahwa setiap warga paroki lama-kelamaan harus berani mengkonfrontasikan dirinya dengan kekuatan dan kelemahan parokinya serta berani melibatkan diri dalam perjalanan bersama yang sering penuh duka dan sedikit suka. Justru inilah suatu romantika hidup dalam mewujudkan Cinta Kasih Kristus dalam gereja setempat, “ tandas Kaedinal Darmojuwono.</p>
<p>Kardinal mengingatkan, masa sepuluh tahuun pertama dari perkembangan hidup suatu paroki biasanya belum mempunyai tradisi yang kuat. Karena kenyataannya masih harus mencari dan belajar. Proses ini kalau ditangani secara serius dapat memperkaya gereja pada umumnya.</p>
<p>Paroki tua dan paroki muda dapat saling membantu, kata Kardinal. Paroki tua dapat memberikan tradisinya pada si muda, dan paroki muda  dapat membuka cakrawala baru bagi si tua. Maka dari itu paroki muda mempunyai tugas untuk mencari identitasnya dan dirasa perlu mengusahkan cara-cara hidup yang sesuai dengan keadaan.</p>
<p><strong>Bagai membabat alas</strong></p>
<p>Dengan menyimak sambutan Kardinal Darmojuwono pada dasa warsa Paroki Bongsari itu, dapatlah kita merasakan betapa beratnya Rm Ingen Housz selaku Kepala Paroki Bongsari pertama mengembangkan paroki tersebut. Kerjanya bagaikan “membabat alas” dalam mengembangkan paroki Bongsari, mulai dari penggembalaan umat dan penanganan wilayah-wilayah yang saat itu dikenal dengan sebutan kring sampai pada pengadaaan perlatan dan isi gereja serta buku-buku untuk keperluan misa. Bahkan, rumah pastoran tempat Rm Ingen Housz bekerja dan beristirahat saat itu belum terurus.</p>
<p>Dalam menegakkan disiplin yang tegas, tidak jarang Rm Ingen brseberangan dengan tokoh umat setempat. Namun, perbedaan pandang tersebut dapat diselesaikan secara baik dalam kasih Kristus.</p>
<p>Rama Ingen berkarya sebagai sebagai Kepala Paroki Bongsari sampai 1 Maret 1975, kemudian dipindah untuk menjalani tugas di paroki lain. Sebagai penggantinya, Uskup Agung telah memilih Rm Pranata Widjaja, SJ yang semula menjabat pastor paroki KArangpanas di Semarang Selatan. Sekalipun Rm. Ingen sudah tidak lagi di antara umat paroki Bongsari bahkan sekarang sudah berada di sisi Bapa Surgawi, segala karya Rm Ingen yang dicurahkan untuk pengembangan Paroki Bongsari tidak terhapus dari ingatan umatnya, terutama generasi tuanya.</p>
<p>Pada tahun-tahun awal berdirinya Paroki Bongsari, perhatian utama diarahkan pada umat sedangkan adminitrasi secara formil kurang mendapatkan perhatian. Rapat-rpat paroki diputus secara musyawarah dan mufkat tnpa banyak menggunakan media tulis menulis. Sekretaris hanya membuat catatan di bukunya sendiri, tanpa membuat notulen rapat. Akibatnya, kita mengalami kesulitan untuk menelusuri catatan-catatan mengenai tahun-tahun awal kehidupan paroki Bongsari.</p>
<p>“ Semasa Rm Ingen bertugas sebagai Pastor Kepala Parok Bongsari, belum ada dewan paroki yang bentuknya seperti sekarang. Kalau ada rapat paroki, Rm Ingen mengumpulkan pamong-pamong lingkungan untuk hadir dalam rapat tersebut. Rapat paroki ini diadakan sekali dalam satu bulan, pada hari Minggu pagi setelah misa. Yang hadir sekitar 15 sampai 20 orang. Sebelum rapat dimulai, Rama mengajak makan pagi bersama,” ungkap JB Soesilo Oemar, kelahiran Ganjuran-Yogyakarta tahun 1930. Semasa Rm Ingen Housz sebagai pastor kepala bongsari, Soesilo Oemar aktif sebagai pengurus lingkungan Puspowarno. Dalam perkembangan paroki Bongsarai sampai sekarang, suatum J. Sri Lestari ini pernah aktif menangani seksi-seksi bendahara, pendidikan, dan liturgi. Sekarang kakek 6 cucu dan 1 buyut ini masih aktif dalam kegiatan paroki, antara lain memberikan renungan dalam kegiatan ibadah wilayah.</p>
<p>“Romo Ingen Housz keras, tegas dan disiplin,” ungkap Soesilo Oemar mengenang kepemimpinan Romo Ingen Housz, SJ selama sewindu sebagai Pastor Kepala Paroki Bongsari.</p>
<p>Semasa Romo Ingen Housz, SJ menjadi Pastor Kepala Paroki Bongsarai, jalan menuju paroki belum semulus sekarang. Pada waktu itu jalan masih berupa tanah tanpa aspal sehingga pada musim penghujan jalan menjadi licin dan berlumpur. Pada musim penghujan, umat datang ke gereja dengan telanjang kaki sedangkan sepatunya ditenteng. Begitu tiba di muka gereja umat membersihkan kaki yang penuh lumpur dengan air dari kran, kemudian mengenangkan sepatu dan baru masuk ke dalam gereja untuk mengikuti misa.</p>
<div id="attachment_4" class="wp-caption alignleft" style="width: 366px"><img class="size-full wp-image-4" title="sudut bongsari" src="http://www.mudikabongsari.com/wp-content/uploads/2009/09/sudut-bongsari.jpg" alt="sudut bongsari" width="356" height="267" /><p class="wp-caption-text">sudut bongsari</p></div>
<p>Pada waktu itu misa berlangsung sekali pada hari Minggu, dan umatnya belum sebanyak seperti sekarang sehingga gereja saaat itu nampak lengang. Maklumlah, kawasan di sekitar lokasi gereja saat itu masih belum penuh dengan penduduk. Perumahan penduduk saat itu terpencar jauh satu dengan yang lain. Sedangkan umat Katolik yang domisilinya berdekatan atau berbatasan dengan batas wilayah Paroki Katedral seperti kawasan sekitar Bajir Kanal  Barat merasa lebih mudah pergi misa ke Katedral daripada ke gereja Bongsarai apalagi pada musim penghujan.</p>
<p>Kalau Romo Ingen Housz, SJ dikenal sebagai pembabat alas dalam penggembalaan paroki beserta umatnya, maka penggantinya yaitu Romo Fredericus Pranata Wijaya, SJ sebagai romo perintis misa berbahasa Jawa di Paroki Bongsari. “Pada zaman Romo Pran (panggilan akrab untuk Romo Pranata Wijaya, SJ) tiap minggu kelima ada misa bahasa Jawa di paroki Bongsari,” ungkap Soesilo Oemar. “Tapi, dalam perkembangan zaman, tidak terasa misa bahasa Jwa itu tahu-tahu hilang begitu saja….” Tambah J. Sri Lestari, kelahiran Solo tahun 1936, pendamping setia Soesilo Oemar yang telah menghasilkan 6 anak, 6 cucu dan 1 buyut.</p>
<p>Sementara itu, Romo Sigriedus Binzler Bintarto, SJ yang mujlai bertugas di Paroki Bongsari sebagai pastor pembantu tahun 1981 kemudian sebagai Pastor Kepala tahun 1981-1986, dikenal sebagai pastor londo jawani (maksudnya orang Eropa yang berperilaku dan bertutur-sapa seperti orang Jawa). ”Romo Binzler itu ngomongnya tidak seru seperti Romo Ingen Housz melainkan lembut sperti orang Yogya,” komentar J. Sri Lestari isteri dari Soesilo Oemar itu. “Sekalipun njawani, Romo Binzler terkenal tertib dan disiplin dalam segala hal, tapi tidak kenceng (maksudnya tidak keras-kaku),” kata Soesilo Oemar menambahi komentar sang isteri.</p>
<p>Romo Binzler juga dikenal oleh umat Paroki Bongsari sebagai perintis pesta umat di paroki Bongsari pada setiap perayaan Natal dan Paskah. Sekalipun dalam pesta tersebut yang disuguhi hanya biskuit dalam kaleng, tapi pesta tersebut sangat mengesankan umat dan sampai saat ini masih merupakan kenangan manis bagi umat generasi tua Bongsari, karena sebelumnya perayaan Natal dan Paskah hanya berwujud misa Natal dan misa Paskah tanpa pesta umat.</p>
<p>Bahkan, pada zaman Romo Binzler menjadi Pastor Kepala Bongsari, pernah ada perayaan Paskah semalam suntuk yang dimeriahkan dengan pertunjukkan drama oleh remaja paroki yang diakhiri dengan misa Paskah yang dimulai pukul 05.30 subuh. Acara ini juga menjadi kenangan manis bagi para remaja tersebut, yang diantaranya sekarang sudah menajdi suami atau isteri atau ayah dan ibu dari beberapa anak.</p>
<p><strong>Visualisasi penyaliban Yesus</strong></p>
<p><strong> </strong>Dalam pernjalan paroki yang tidak sepi dari pelbagi kegiatan liturgis dan kemasyarakatan. Kreativitas dan inovasi umat Bongsari patut diacungkan jempol.</p>
<p>Paroki Bongsari merupakan paroki pertama se-Keusukupan Agung Semarang yang melakukan kegitan outdoor berupa visulasisasi penyaliban Yesus dalam rangka perayaan Paskah apda tahun 1983. Visualisasi sengsara Yesus yang dimulai degan adegan penangkapan Yesus sampai dengan eksekusi penyaliban Yesus, diperagakan oleh umat Bongsari sendiri. Acara dimulai di dalam gedung gereja berupa adegan penangkapan dan penghakiman, kemudian dilanjutkan dengan pengarakan Yesus memanggul salib dari halaman gereja keluar menempuh perjalanan sekitar satu kilometer menuju sebuah bukit, yang penduduk setempat menyebutnya Bukit Bongsari. Acara visualisasi penyaliban Yesus ini berlangsung khidmat dan mengaharukan, bahkan tidak sedikit umat melelehkan air mata mengikuti upacara tersebut.</p>
<p>St. Poerwoto, B A yang waktu itu menjabat Lurah Bongsari 1969-1985, mengungkapkan, pada tahun 1981 dia selaku Lurah Bongsari menyelenggarakan penataran P4  pola 25 khusus penduduk Bongsari sebanyak 6 angkatan. Desa Bongsari pada waktu itu dijadikan Desa Pelopor P4 untuk pertama kali.</p>
<p>“Sebagai uji-coba untuk mengetahui sampai sejauh mana keberhasilan penduduk kami menghayati Pancasila, saya memprakarsai untuk melakukan visualisasi penyaliban Yesus dengan melewati jalan desa. Ternyata acara berjalan lancar dan mendapatkan dukungan masyarakat dari segala kepercayaan, bahkana da warga masyarakat secara inisiatif sendiri menyediakan minuman kendi di sepanjang jalan yang dilalui visualisasi penyaliban itu, ungkap Poerwoto, kelahiran Wates Kulon Progo tahun 1934. Lulusan tahun 1951 Akademi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta jurusan seni lukis patung dan kakek 11 cucu ini sampai saat ini masih aktif mengikuti kegiatan paroki di Bongsari.</p>
<p>Berkat bimbingan sang gembala dan kerjasama sinergis antara gembala dengan umatnya, Paroki Bongsari tidak saja aktif dalam kegiatan liturgis juga turut aktif dalam kegiatan kemasyarakatan mengatasi masalah yang sedang dihadapi warga masyarakat umum. Contohnya, pada saat musim kemarau berkepanjangan melanda sebagian besar wilayah Jawa Tengah pada tahun 1976, umat Bongsari dibawah bimibingan Romo Stormmesand, SJ bekerjasama dengan Yayasan Sosial Soegijapranata pimpinan Br. Servatius, FIC melakukan aksi sosial berupa menampung anak-anak dari keluarga-keluarga yang daerahnya dilanda paceklik akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Jumlah anak yang berhasil ditampung saat itu sebanyak 51 orang anak yang dititipkan pada keluarga-keluarga di Bongsari yang mampu dan bersedia menampungnya. Anak-anak tersebut sebagian besar dari Purwodadi, Grobogan yang sedang dilanda paceklik. Lama penitipan tiga bulan, sesuai dengan lamanya musim paceklik, anak-anak tersebut diserahkan kembali kepada keluarganya masing-masing.</p>
<p>Paroki Bongsari dengan dinamika umatnya dibawah bimbingan ara gembalanya mulai dari Romo Arnoldus Ingen Housz, SJ sampai sekarang Romo Leonardus Smit, SJ, tetap melangkah maju dengan pelbagi program kegiatan gerejani dan kemasyarakatan sesusai dengan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang.</p>
<p>Dalam memasuki 40 tahun usianya Paroki Bongsari sampai saata ini telah menghasilkan sebanyak 18 orang biarawan/biarawati dari kalangan umatnya sendiri, terdiri dari 7 pastor, 2 frater, 1 bruder dan 8 suster. Antara lain, Romo Eustachius Azis Mardopo Subroto, SJ, Romo Albertus Maria Roni Nurharyanto, SJ, Romo Agustinus Purwantoro, SJ, Romo Antonius Suyparyono, Pr, Romo Johannes Baptista Rudy Hardono, Pr, Romo Frank Bahrun dan Romo Agustinus Tri Edy Wasono, Pr.</p>
<p><strong>Terbesar se-Keuskupan Agung Semarang</strong></p>
<p><strong> </strong>Dengan memasuki delapan gereja wilayah (belum termasuk gereja induknya di Bongsari), yang luar teritorialnya sebagian masuk wilayah Kotamadya Semarang, sebagian lagi masuk wilayah Kabupaten Semarang dan sebagian lainnya masuk wilayah Kabupaten Kendal, Paroki “Santa Teresia” Bongsari saat ini dapat dikatakan sebagai paroki terbesar di Keuskupan Agung Semarang.</p>
<p>Kedelapan gereja wilayah tersebut meliputi Gereja Santo Martinus di wilayah Krobokan, Kotamadya Semarang, Gereja Santo Ignatius di wilayah Krapyak Utara, Kotamadya Semarang, Gereja Santa Teresia  Avila di wilayah Kedungpane, Kotamadya Semarang, Gereja Santo Yohanes Rasul di wilayah Boja, Kabupaten Kendal, Gereja Santo Mikael di wilayah Perumahan Semarang Indah, Kotamadya Semarang, dan Gereja Santo Henricus di wilayah Ngalian, Kabupaten Kendal.</p>
<p>Karena terlalu luasnya daerah pelayanan dan makin membesarnya jumlah umat yang dilayani serta terbatasnya jumlah pastor yang ada, Dewan Paroki “Santa Teresia” Bongsari melalui surat No. 026/DP.U/IV/2007 tanggal 19 April 2007 mengajukan usul kepada Uskup Agng Semarang untuk membagi Paroki “Santa Teresia” Bongsari menjadi beberapa stasi. Ini dimaksudkan untuk semakin baiknya pelayanan terhadap umat.</p>
<p>Menanggapi usulan Dewan Paroki Bongsari tersebut, Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignatius Suharyo dengan surat tertanggal 25 April 2007 mengabulkan pembentukan tiga stasi di Paroki Bongsari. Ketiga stasi tersebut adalah Stasi “Santo Ignatius” yang meliputi  wilayah dan terbagi dalam 19 lingkungan dengan teritorial meliputi Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Tugu dan sebagian Kecamatan Ngalian, Stasi “Santo Mikael” yang meliputi kawasan Perumahan Semarang Indah dan Perumahan Puri Anjasmoro, dan Stasi “Santo Petrus Krisologus” yang teritorialnya meliputi kawasan Perumahan BSB (Bumi Semarang Baru) dan Kecamatan Mijen, yang meliputi 4 wilayah dan terbagi dalam 21 lingkungan.</p>
<p>Stasi “Santo Petrus Krisologus” dewasa ini belum memiliki gedung gereja, baru mempunya tanah yang merupakan hasil hibah dari Perumahan BSB. Saat ini sedang diurus perijinan pembangunan gerejanya. Stasi ini merupakan gabungan  dari gereja “Santo Henricus” Ngalian, gereja “Santa Teresia Avila” Kedungpane, Gereja “Santo Yohanes” Mijen dan Gereja “Santo Yohanes Rasul” di Boja.</p>
<p>Sumber: <em>Peringatan 40 tahun Gereja Santa Teresia Bongsari Semarang</em>, hal. 23-32</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mudikabongsari.com/2009/09/sejarah-paroki-bongsari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
